Jumat, 21 Desember 2012

MEREKA JUGA INSPIRASIKU

MEREKA INSPIRASIKU - Saya akan tetap mencoba melakukan sesuatu yang menjadi "sesuatu yang seharusnya" /red OM Kris. Meskipun telah saya dapati dimana saya sendiri mulai merasa bingung akan kerasnya dunia yang ketika ini menjadikan saya nyaman dan begitu mudah, betapa tidak? apa yang saya inginkan setidaknya bisa tercapai dengan mudah sesuai dengan harapanku. Memang aneh kehidupan ini, terkadang kita lupa bersyukur atas apa yang telah kita miliki, padahal begitu banyak sahabat disekitar kita yang masih kekurangan. Semestinya saya banyak belajar dari orang-orang disekitarku, dari mereka yang betul-betul mampu bertahan dan berusaha, sampai pada batas kemampuan yang dimiliki.

MEREKA INSPIRASIKU

Contoh inilah yang semestinya menjadikan saya sadar dan berharap saya mempunyai simpati terhadap mereka, meski sebenarnya keadaanku sendiri, juga tidak lebih baik dari mereka. Mungkin karena saya tidak bisa bersyukur saja. Keadaan sekitar mencoba menyadarkan saya untuk bisa menghargai apa yang telah dilakukan oleh generasi terdahulu, memang benar adanya, jika banyak hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tapi bukankah yang lebih menjanjikan adalah karena kita mampu mengerjakan pekerjaan dengan senang hati dan sungguh-sungguh?.

Jika sedang mengalami keadaan yang kurang menyenangkan seperti itu, saya mulai mencoba melihat kedalam diriku sendiri, tidak usah pusing memikirkan keadaan orang lain atau sibuk mencari-cari tempat untuk menumpahkan semua kesalahan itu. Tapi memang ada kalanya kita membutuhkan tempat untuk merenungkan, atas apa yang kita perbuat itu. InsyaAllah, kita akan mendapatkankan jawaban atas apa yang kita pikirkan. Dan ini memang menjadi hal yang kadang kala saya renungkan terus-menerus, ketika yang genting atau sedang banyak masalah. Tetapi alhamdulillah ketika ini memang kehidupan ku lebih baik, mencoba menyadari arti yang sebenarnya sehingga saya bisa berdiri dengan tegak di sini, didunia ini. 

Semakin banyak alasan yang timbul, jika suatu ketika saya mesti berpikir dari arah orang lain, mencoba memahami arti sebenarnya. Menyibak tabir yang sebenarnya ada di belakang mereka, InsyaAllah jika kita tahu hal tersebut, maka tidak akan ada lagi keraguan ataupun rasa benci, karena kadang pemahaman itu penting, menyangkut sesuatu yang terdalam, sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan perkataan atau mungkin terjadi kesalahan komunikasi dua arah. Dan terjadi lah pertikaian yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Ketika saya sedang berada pada posisi yang bagus, ini saya bandingkan dengan 5 atau 6 tahun yang lalu, ketika awal pertama lulus bangku sekolah menengah atas, keluar dari lingkungan asal, keluar dari kehidupan anak sekolah dan keluar dari habitat anak baru gede. Awalnya memang berat dan terasa sulit sekali, bagaimana tidak, untuk bersosialisasi dengan lingkungan baru, mencoba menggapai cita-cita yang diimpikan, ingin melanjutkan kuliah ke sana, ke mari, sibuk mencari formulir pendaftaran, ditambah uang yang tidak sedikit tentunya, seakan memang jalan lain pada ketika itu terasa sulit sekali. Itulah yang membuat saya berusaha untuk mencapai target itu, dan kebanyakan dari teman-temanku juga seperti itu. Dalam pikiranku hanya itulah yang nantinya bisa menjamin apa yang saya harapkan di massa depan, bahwa saya bisa sukses dan mendapat gaji yang besar dan bisa hidup mandiri.

Ada banyak hal yang ternyata tidak saya ketahui waktu itu, saya terlalu mengikuti lingkungan sekitarku. Teman-temanku memang memberikan warna yang besar terhadap pemikiranku itu, kadang saya hanya terdiam dan mencoba untuk mengurai terus apa sebenarnya tujuan akhir ini semua. Apakah mereka yang sudah diterima di perguruan tinggi bagus akan sukses nantinya? ataukah mereka yang hanya kuliah di tempat yang biasa tidak bisa sukses? beberapa pertanyaan itu terus hanyut kedalam benakku dan memenuhi otakku ini. Seakan saya belum puas terhadap hasil yang saya terima, memandang dunia hanya dari sisiku saja. Saat itu memang terasa sulit untuk menerima apa yang saya inginkan. Dan banyak alasan yang menjadikan itu semua, termasuk keadaan lingkungan, keluarga dan kondisi diriku sendiri yang hampa menerima perubahan, yang terlalu cepat dan kurang begitu bersahabat.

Kesadaran itu tiba-tiba muncul, ketika saya tersadar bahwa saya sebenarnya memang butuh ketentraman hati saja, menerima semua apa adanya. Toh dimanapun saya berada, saya bisa berbuat yang terbaik semampuku. Seperti ketika ini saya berusaha mati-matian menjadikan diriku selalu bermanfaat bagi orang lain dan mengoreksi diri setiap hari agar kesalahan yang pernah saya alami tidak terjadi lagi.

Butuh motivasi

Butuh motivasi yang lebih agar sampai kepada yang kita inginkan, meskipun pada mulanya memang terasa sulit, sangat canggung sekali, bahkan tidak mengenakkan sekali. Namun Insyaallah pada akhirnya muncul seperti dorongan untuk merubah sesuatu hal yang ketika ini menjadi nyata sekali. Bukankah kita sebaiknya mencoba berusaha atas segala rencana yang telah disusun dan selalu berdoa?. Yang InsyaAllah pada akhirnya apa yang kita rencanakan berhasil dengan baik sekali. Dan bukan berarti alasan bahwa keberhasilan yang telah kita raih, adalah hanya karena memang kita sudah berbuat sesuai dengan yang benar.  Kapan dan dimana kita mengalami kegagalan yang sungguh menyakitkan dalam hidup? maka saat itu pula kesabaran dan syukur sikap yang kita tunjukkan pada lingkungan disekitar merupakan cerminan suasana pikiran kita.

Terkadang saya kurang sanggup menahan emosi sendiri, bahkan terlalu berambisi. Namun saya kira ini alamiah, masih dalam tahap kewajaran apabila ketika itu saya masih bisa merenungkan kesalahan saya itu. Dimana dan kapan saya berada selalu ada kesempatan bagi saya untuk belajar dan belajar terus, kesalahan, atau ego pada diri saya sendiri, kadang kala melampaui akal ilmiah sampai bawah sadar yang saya miliki. Saya yakin setiap manusia akan menjadi sensitif untuk beberapa hal yang telah ditutupi, entah apapun itu. Yang mana kita tidak mau segala sesuatu diketahui banyak orang disekitar kita, pastilah akan ada hal kecil yang kita ingin rahasiakan. Seberapa besar kecilnya yang jelas setiap orang mempunyai penafsiran yang berbeda. 

Teringat dimana saat saya tertuju pada penjual koran, yang ada dipinggir jalan. Beberapa kali bahkan sempat ngobrol beberapa hal, suatu ketika ada kesalahan dalam menjual dagangannya, jika dihitung katanya ia rugi 2000 rupiah, karena harga koran itu tidak seperti biasanya, edisi khusus katanya. Saya pikir 2000 tidak ada apa-apanya, sangat kecil saya pikir dalam hati. Tapi untuk penjual koran ini segitu saja dapat menguras keuntungan beberapa lembar koran yang sudah dijualnya. Namun beliau terus konsisten dengan pekerjaannya, tidak ada batasan waktu baginya dalam bekerja, pagi sampai malam bahkan ia setia menunggu kiosnya, terkadang dia kesiangan dalam menjajakan koran tapi tidak ada kata terlambat baginya untuk berusaha. Menurutnya, sebgai ganti pelanggannya adalah mereka yang baru pulang bekerja pada sore hari, sehingga meskipun pagi sudah tiada, sore haripun masih laku dagangannya, dan tidak ada potongan harga untuk sore hari. Harga tetap, tidak berubah sama sekali. Biasanya jika di Banjarnegara atau di wonosobo harga koran akan turun jika sudah sore hari, karena memang koran itu untuk pagi hari saja. 

Rasa Syukur dan kesabaranlah yang membuatnya mampu bertahan. Sehingga banyak pelanggan korannya yang tetap setia mengambil koran atau majalah kepadanya. Jika kisah ini saya renungkan memang ada banyak hal yang bisa saya ambil hikmahnya, saya kadang malu sendiri, ketika orang lain dapat berpikir arif saya malah kebingungan mencari keuntungan dengan diri saya sendiri. Banyak hal yang bisa kita pelajari dijalanan termasuk juga cerita tadi, masih ada puluhan bahkan ratusan penjual koran yang lain yang ada di penjuru tanah air ini. Berjuang utnuk mencari kepingan-kepingan rupiah demi melanjutkan hidupnya, mencoba melelehkan garis kemiskinan pada panasnya siang diantara gumpalan dingin ketika hatinya masih keras seperti es batu.

Bisa jadi suatu ketika nanti penjual koran tadi akan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak, karena usahanya yang sekarang. Siapa sangka, saya pikir bukan menjadi mustahil lagi jika seseorang mau bekerja keras pasti ia akan mendapatkan apa yang dia inginkan, termasuk pula penghidupan yang layak tanpa perlu terlalu bergantung kepada orang lain. Sudah terbukti sekarang ini, banyak orang yang sekarang sukses berlimpah harta dahulunya adalah para pekerja tangguh yang kenal lelah bekerja dengan sepenuh hati tanpa merasa malu atau minder dihadapan orang lain, karena keyakinan yang sama diantara mereka bahwa suatu ketika nanti kehidupan, mereka akan lebih layak dan lebih makmur.

Beberapa kali bila saya perhatikan percakapan yang dibuat antara tukang becak dan juga tukang koran tadi. Adakalanya perbincangan sederhana menimbulkan keasyikan dalam obrolan, bahkan terasa seperti sudah menjadi keluarga saja. Sehingga kepercayaan diantara mereka sungguh hebat saya pikir, adapun bila beberapa koran dagangannya habis, ia akan mencoba mencari tambahan rejeki tempat temannya, dengan penuh kepercayaan ia menyuruh tukang becak untuk menjaga tempat dagangannya itu. Subhanallah, rasa percaya diri yang hebat, saling menghormati satu dengan yang lain, menjadikan pergaulan diantara mereka  terasa erat, dan terus langgeng, timbal balik karena saling menghormati kepentingan dan mencoba membantu orang lain. Karena memang beberapa orang yang mangkal di sana, senang ikut numpang membaca korannya. Sesekali juga menemani ngobrol biar tidak sepi.

Dari sini setidaknya ada beberapa hikmah yang saya dapat. Pertama, budaya saling percaya dan menghormati satu sama lain di masyarakat kita masih begitu kental sekali. Kedua, orang yang senang mangkal di tempat tukang koran ternyata mempunyai wawasan yang cukup luas, karena mereka bisa menikmati informasi yang syarat setiap hari dari koran, tanpa harus mengeluarkan uang untuk membelinya, saling asih dan menghargai keberadaan satu dengan yang lain.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar